Ruang Damai Ajak Remaja Kritis Sikapi Narasi Kejahatan dan Propaganda Ekstrem di Media Sosial

Tim Redaksi
0


JAKARTA, RADARCIBUBUR.WEB.ID (15-10-2026) — Perkembangan teknologi digital membuat informasi semakin mudah diproduksi dan disebarkan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, provokasi, hingga narasi ekstrem yang berpotensi memicu intoleransi dan menormalisasi kekerasan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Yayasan Ruang Damai dalam kegiatan Bincang Damai: Bahasa dan Literatur dalam Membangun Budaya Perdamaian. Forum ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih kritis dalam memahami bahasa, literatur, dan konten digital yang beredar di ruang publik.

Literatur ekstrem dapat hadir dalam berbagai bentuk, baik teks maupun visual. Melalui penggunaan bahasa yang manipulatif, narasi semacam ini dapat membangun ketakutan, menumbuhkan kebencian, bahkan menciptakan pembenaran terhadap kekerasan.

Karena itu, kemampuan memahami konteks informasi, menggunakan bahasa secara bertanggung jawab, serta mengenali narasi yang berpotensi mendorong ekstremisme menjadi bagian penting dalam membangun budaya perdamaian.

Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, dalam sambutannya menyoroti fenomena True Crime Community (TCC), yakni komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap kisah kejahatan nyata. Menurutnya, fenomena tersebut memiliki sisi positif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat, tetapi juga menyimpan risiko apabila tragedi manusia dikemas semata-mata sebagai hiburan.

“Fenomena True Crime Community (TCC) menghadirkan tantangan tersendiri bagi budaya literasi kita. Pembahasan TCC memang dapat memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan publik. Namun, ketika narasi tersebut disampaikan tanpa empati, ia berisiko mengubah tragedi kemanusiaan menjadi tontonan hiburan yang justru dapat memicu kekerasan baru,” ujarnya.

Literasi Kritis di Tengah Tren Kecerdasan Buatan

Penulis dan peneliti Dian Purnomo turut menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin bergantung pada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta dorongan fear of missing out (FOMO), yaitu kekhawatiran tertinggal dari tren yang berkembang di ruang digital.

Menurut perspektif yang disampaikan dalam diskusi tersebut, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis. Tanpa kemampuan memilah informasi, masyarakat berisiko menerima dan menyebarkan konten tanpa memahami konteks maupun dampaknya.

Dian juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan berpikir kritis sejak dini. Orang tua, menurutnya, dapat memulainya dengan mengatur penggunaan telepon genggam dan membangun komunikasi yang terbuka bersama anak.

“Orang tua bisa memulainya dengan membatasi penggunaan handphone dan membuka ruang dialog yang lebih hangat bersama anak. Melalui interaksi inilah kemampuan berpikir kritis terbentuk, sekaligus mempererat ikatan keluarga,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menempatkan keluarga sebagai salah satu lingkungan penting untuk menumbuhkan kemampuan anak dalam mempertanyakan informasi, memahami perbedaan, dan mengembangkan empati ketika berinteraksi di ruang digital.


Propaganda Ekstrem Menyusup Lewat Konten Digital

Dari perspektif keamanan publik, AKP Irsal Lathief Hamdani dari Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri memaparkan perubahan pola penyebaran narasi ekstremisme kekerasan atau violent extremism.

Ia menjelaskan bahwa propaganda ekstrem tidak selalu disampaikan melalui pesan yang secara terang-terangan menunjukkan ideologi kekerasan. Narasi tersebut juga dapat muncul melalui kombinasi berbagai ideologi kekerasan atau composite, peniruan aksi kejahatan sebelumnya atau copycat, hingga konten slop yang dikemas dengan gaya absurd, jenaka, dan dekat dengan keseharian pengguna media sosial.

Dalam konteks tersebut, konten yang tampak seperti hiburan biasa perlu dipahami secara kritis apabila memuat simbol, figur, atau pesan yang berpotensi menormalisasi kekerasan dan mempromosikan ekstremisme.

AKP Irsal juga menyoroti perubahan pola komunikasi pelaku terorisme. Menurutnya, sebagian pelaku kini cenderung ingin menunjukkan eksistensi di ruang publik digital dan dapat menyampaikan sinyal atau niat ancaman secara implisit melalui media sosial.

“Pola terorisme saat ini sudah berubah pesat dibanding masa lalu. Jika dulu bergerak secara sembunyi-sembunyi, kini pelakunya justru ingin terlihat menonjol dan cenderung menyampaikan niat atau ancaman terornya secara implisit di ruang publik digital,” tegas AKP Irsal Lathief Hamdani.

Situasi tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam memahami pola komunikasi digital, tanpa terburu-buru menarik kesimpulan atau memberikan label kepada seseorang hanya berdasarkan konten yang belum terverifikasi.

Sinergi antara orang tua, guru, komunitas, dan lingkungan terdekat dinilai penting untuk mengenali potensi kerentanan anak dan remaja. Upaya pencegahan juga perlu dilakukan melalui penguatan nalar kritis, empati, komunikasi terbuka, serta pemahaman terhadap dampak penyebaran konten di internet.

Bahasa sebagai Jembatan Perdamaian

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dian Purnomo selaku penulis dan peneliti serta AKP Irsal Lathief Hamdani dari Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri. Diskusi tersebut diikuti 78 peserta yang berasal dari kalangan aktivis, mahasiswa, dan generasi muda dari berbagai komunitas.

Melalui forum ini, Yayasan Ruang Damai menegaskan pentingnya menjadikan bahasa dan literatur sebagai sarana untuk membangun pemahaman, memperkuat empati, dan menciptakan komunikasi yang lebih inklusif.

Di tengah derasnya arus informasi digital, setiap individu tidak hanya berperan sebagai penerima pesan, tetapi juga dapat menjadi pembuat dan penyebar narasi. Oleh sebab itu, tanggung jawab dalam memproduksi dan membagikan konten menjadi bagian penting dari upaya menjaga ruang digital agar tetap aman dan menghargai keberagaman.

Ruang Damai berharap diskusi tersebut dapat menginspirasi peserta, terutama generasi muda, untuk menggunakan kata-kata, tulisan, dan konten digital sebagai sarana menyebarkan empati, mendukung keadilan, serta memperkuat budaya perdamaian yang berkelanjutan.

(Red. AMU)

Tags
  • Newer

    Ruang Damai Ajak Remaja Kritis Sikapi Narasi Kejahatan dan Propaganda Ekstrem di Media Sosial

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)
3/related/default